Ghosting di Era Digital, Kenapa Makin Sering Terjadi? Kebiasaan Baru atau Masalah Emosional?

Share this post:

VOKS Radio Bali – Di tengah kemudahan komunikasi di era digital, fenomena ghosting justru semakin sering terjadi. Istilah ini merujuk pada kondisi ketika seseorang tiba-tiba menghilang tanpa kabar, padahal sebelumnya menjalin komunikasi yang cukup intens.

Fenomena ini banyak ditemui di kalangan anak muda, terutama yang aktif menggunakan media sosial dan aplikasi chatting. Hubungan yang awalnya terasa dekat bisa berubah seketika tanpa penjelasan, meninggalkan tanda tanya bagi pihak yang ditinggalkan.

Tak hanya dalam hubungan percintaan, ghosting juga kerap terjadi dalam pertemanan hingga urusan profesional. Dampaknya pun tidak bisa dianggap sepele, mulai dari rasa bingung, overthinking, hingga menurunnya rasa percaya diri.

Komunikasi Instan dan Minimnya Kejelasan

Kemudahan berinteraksi di dunia digital menjadi salah satu faktor utama maraknya ghosting. Banyaknya pilihan relasi membuat hubungan terasa lebih instan dan tidak selalu dibangun secara mendalam.

Ketika ketertarikan mulai berkurang, sebagian orang memilih menghindari situasi dengan cara paling praktis, yaitu menghilang tanpa penjelasan. Hal ini juga dipengaruhi oleh kurangnya kesiapan emosional dalam menghadapi konflik atau percakapan yang tidak nyaman.

Di sisi lain, komunikasi di balik layar sering kali membuat empati menjadi berkurang. Padahal, mengakhiri komunikasi dengan jelas merupakan bentuk penghargaan terhadap perasaan orang lain.

Dengan semakin maraknya fenomena ini, ghosting menjadi pengingat bahwa di tengah perkembangan teknologi, kejujuran dan komunikasi yang sehat tetap menjadi hal penting dalam menjaga kualitas hubungan.

Editor: Sarjaniputry

Sumber: Kompasiana.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Post