Ogoh-Ogoh, Tradisi Sakral Bali yang Mendunia

Share this post:

Voks Radio Bali- Ogoh-ogoh menjadi salah satu tradisi yang paling ikonik di Bali dan selalu menarik perhatian, terutama menjelang Hari Raya Nyepi. Karya seni yang berbentuk menyeramkan ini diarak keliling desa pada malam Pengerupukan, sehari sebelum umat Hindu menjalani hari suci Nyepi.

Ogoh-ogoh biasanya dibuat menyerupai raksasa yang menyeramkan, makhluk mitologi, atau simbol sifat buruk manusia. Dalam filosofi Hindu Bali, ogoh-ogoh melambangkan Bhuta Kala, yaitu energi negatif yang ada di alam semesta maupun dalam diri manusia. Arak-arakan ogoh-ogoh menjadi simbol pengusiran energi negatif dan persiapan spiritual sebelum memasuki hari penyucian diri.

Tradisi ini melibatkan kreativitas dan kerja sama para pemuda di setiap banjar. Mereka merancang, membangun, dan menghias ogoh-ogoh selama berminggu-minggu menggunakan bahan seperti bambu. Proses ini tidak hanya menghasilkan karya seni yang megah dan menarik, tetapi juga mempererat solidaritas dan kebersamaan warga.

Pada malam Pengerupukan, ogoh-ogoh diarak dengan iringan gamelan dan sorak sorai masyarakat. Setelah diarak, sebagian ogoh-ogoh dibakar sebagai simbol penghancuran sifat buruk dan pembersihan diri. Keesokan harinya, suasana Bali berubah menjadi hening saat Hari Raya Nyepi dijalankan dengan tapa brata penyepian.

Ogoh-ogoh bukan sekadar pertunjukan budaya, tetapi juga cerminan nilai spiritual dan keseimbangan hidup masyarakat Bali. Tradisi ini menunjukkan bahwa sebelum mencapai ketenangan, manusia perlu membersihkan diri dari energi negatif dan hal-hal buruk dalam diri.

Editor : Chandra sania
Sumber : Tempo.co

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Post